merapi oh merapi

May 29th, 2008 by aban-banggai

Sebuah Catatan Pendek
Tentang Introspeksi diri sebagai makhluk

Oleh : ABAN_RAHA

Hari itu aku bangun tergesa. Maklum udara pagi ini memang melenakan untuk berlama-lama menikmati hangatnya kantong tidur di hampir satu derajat pasar bubrah gunung merapi. Ini adalah hari pertama kami disini. Gunung merapi merupakan gunung yang yang ke 4 dalam 2 bulan terakhir tahun ini,. Matahari diufuk timur dengan rasa malu menampakan dirinya diantara gundukan awan yang menambah keindahan pagi itu..disamping kami melihat matahari yang baru bangun kami juga melihat indahnya gunung merbabu, yang konon katanya kedua gunung ini masih sangat keramat. Setidaknya begitulah anggapan masyarakat sekitar kopeng, boyalali dan

semarang

menganggapnya. Kilauan embun pagi tersapu surya pagi ini, sayang memang untuk dilewatkan. Kabut tipis menggantung diantara sapuan angin savanna yang lembut.

Aku membuka mata pelan-pelan. Berharap ada keajaiban secangkir kopi panas terhidang ketika aku bangun. Nyatanya, tidak. Aku harus beranjak keluar, melapas belaian lebut polar hangat kantong tidurku yang menemaniku semalaman. Aku meregangkan otot-otot ku yang berasa kaku. Nafas yang kering keluar dari mulut yang dehidrasi. Segera aku melangkah keluar. Menggerakkan badannku mencari penyesuaian yang manis dengan sapuan angin. Udara pagi, cuaca yang cerah, sunrise yang indah, puncak gunung yang menggiurkan semuanya itu menjadi sangat sayang tidak sempurna jika belum menjadi background dari kami semua..sekuntun edelweiss di depan mataku menjadi hiburan tersediri. Perlahan aku menyibakkan setitik embun pada daun cantigi yang masih muda. EMbun yang terberai membuat hati ini sedikit terhibur.

Aku menuangkan mengeluarkan tabung gas dan kompor. Kemudian menyalakan nya untuk memasak air. Hah…Ini akan menjadi hari yang panjang. Sesaat aku menghidupkan kompor gas, lelehan embun pagi menetes dari dome yang menjadi pelidung paling luar sangatlah dingin, Sedingin udara yang membuat beku.

Tanpa terasa, dalam sepuluh menit, kopi panas dan mie rebus campur bakso menjadi menu paling nikmat dipagi itu.. Mmm..cukup untuk menghangatkan pagi ini. Berjalan kesisi puncak merapi, aku disuguhkan pemandangan  spektakuler pagi ini. Langit kemilau keemasan, kabut tipis melayang rendah, kuntum edelwais yang memutih walaupun cuman dikit, serta pucuk-pucuk cantigi yang memerah. Pemandangan indah, karunia Tuhan yang sangat memukau. Lukisan alam yang tiada tandingan.

Terdiam aku menyaksikan keindahan ini. Kemudian pandangan aku sapukan keseluruh hamparan rumput kering

padang

ini di pasar bubrah.

Padang

yang menawan semua pendaki untuk singgah dan bermalam meski telah beberapa kali disekap kabut gelap disini. Merasakan amukan badai yang meluluhlantakan tenda-tenda, dan segundang pengalaman lainnya. Toh, mereka masih tetap berbondong-bondong kesini, meski kadang kala harus lewat jalur-jalur tikus yang illegal.

Teringat aku, ketika beberapa waktu yang lalu sempat menghabiskan waktu gunung lawu. Disana sangat Hijau, asri dengan tangkai-tangkai si bunga abadi yang merekah dan menggugah untuk di petik. Tapi…apa boleh dikata, kami hanya bisa mengambil gambar saja. Menjelang siang, kami sudah berada di puncak. Menikmati keindahan kawah gunung merapi yang belum lama ini menjadi berita yang mengguncang dunia internasional. Hari panas bukan main. Sang raja siang seakan marah menyaksikan tingkah polah manusia yang sama sekali tidak bersahabat dengan alam.

Sejurus kemudian, sebuah rombongan melintas didepan. Mereka bersenda gurau.

Ada

yang menatap nanar kearah kawah dengan takjubnya. Yang lain, sibuk mengabadikan keindahan langit biru dengan awan putih bersih dan berlatar merbabu yang anggun. Uap belerang tercium menusuk. 

Ada

yang aneh. Aku bahkan belum bisa mendeskripsikan keanehan itu ketika tiba-tiba mereka bergerak mendahului. Ya ampun. Dari kesemua remaja itu, aku melihat hampir rata-rata tidak mengenakan perlengkapan komplit. Semuanya hanya memakai sandal jepit tiga ribuan, meski ada juga yang menggunakan sepatu kets. Converse. Dan lihat lagi, dimana barang-barang mereka tinggal? Kemana carrier mereka? Mereka hanya memanggul daypack kecil, entah apa isinya. Penasaran dengan hal ini, aku menyusul mereka. Berharap keajaiban datang, dan pikiran jelekku salah. Mungkin mereka meninggalkan barang-barang mereka di pasar bubrah.

Dipasar bubrah, mereka terlihat senang-senang saja. Dan langsung bablas turun dengan seperti yang aku lihat dipuncak. Dan aku salah. Keajaiban itu tidak muncul. Dalam hati aku bersukur, semalam tidak hujan. Tidak ada badai, hanya udara yang mencapai hampir tiga derajat di subuh hari. Benar-bener perjuangan berat untuk mereka. Bagaimana jika semalam badai datang, bagaimana jika semalam dingin mencapai minus derajat, bagaimana jika kabut menggulung? Dan seribu pertanyaan yang aku sendiri bingung menanyakannya. Tapi sukurlah mereka selamat.

Setidaknya, kita tidak perlu bersusah-susah jika naik gunung, tetapi bukan berarti harus meregang nyawa, bukan berarti harus tersiksa diudara dingin dengan pakaian seadanya, Dengan perlengkapan seadanya. Itulah akhir dari perjalanan kami di gunung merapi…

Team Pendaki
Aban, Faizz, Stepi, Delly, dan Nia

spesial thx’s for:

1.     Alloh Swt, Sang Penguasa Jagad Raya atas segala nikmat & anugerah yang telah diberikan

2.     ortu yang telah memberikan izin saya untuk mendaki gunung lagi walaupun biasanya udah pulang baru bilang..

3.     Tumbuh-2an, binatang-2 hutan, kabut, angin, hujan, bintang-2, batu-2 & yang lainnya yg telah setia menemani

4.     Maladicaers yang selalu mendukung perjalanannku..

5.     Jayuzzz,  miss U all…

6.     Keluarga maladica, saudara/i baruku yg telah memberikan banyak pelajaran dalam menjalani hidup baik dikala suka dan duka

7.    

Para

sahabat-sahabat yg tidak dapat aq sebutkan satu persatu semoga suatu saat rasa damai & cinta kasih akan  selalu tertanam dihati….

salam friendship and brotherhood…..

May 29th, 2008 by aban-banggai

Generasi Biru

Naik Naik Ke Puncak Gunung

Ditulis oleh Mr. Fortynine di/pada Maret 1st, 2007

Sejarah Perkembangan

Kegiatan mendaki gunung telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan menurut kisah Mahabarata. Pandawa Lima yang terdiri dari Sadewa, Nakula, Arjuna, Bhima dan Yudhisthira, beserta istri mereka Draupadi, mendaki gunung Mahameru untuk mencapai puncaknya.

Dalam sejarah dunia, pendakian gunung tertinggi pertama kalinya terjadi dengan pencapaian puncak Everest oleh Sir Edmund Hillary, pendaki gunung asal New Zealand dan Tenzing Norgey, seorang sherpa (Pemandu atau porter di pegunungan Himalaya berasal dari bangsa Tibet) asal Tibet pada tahun 1953.

Keinginan manusia untuk mendaki gunung sebelumnya sudah muncul pada abad 19, ketika orang-orang Swiss (The Alps) mulai mendaki gunung-gunung untuk mencapai puncaknya, dan Edward Whymper, seorang berkebangsaan Inggris, adalah orang yang pertama berhasil mencapai puncak gunung Matterhorn pada tahun 1865.

Sejak saat itu, banyak ekspedisi ekspedisi untuk mencapai puncak puncak gunung di dunia. Klub pendakian gunung Alpine Club dari Inggris telah melakukan lebih dari 600 ekspedisi semenjak Alpine Club didirikan pada tahun 1857. Tercatat dalam Russian Mountaineering Federation, bahwa telah dilakukan 48 ekspedisi untuk mencapai puncak puncak Himalaya pada tahun 1994 - 1998.

Di Indonesia sendiri tercatat 145.151 orang yang mendaki gunung Gede Pangrango, Jawa Barat pada tahun 1996-2000. Dijelaskan pula dalam Diktat Sekolah Manajemen Ekspedisi Wanadri 2000 bahwa hampir semua perguruan tinggi atau SLTA mempunyai kelompok-kelompok penggiat alam terbuka.

Secara perorangan maupun berkelompok mereka mengembangkan segi petualangan, segi ilmu pengetahuan, segi olahraga, segi rekreasi dan segi wisata. Perkembangan ini dilakukan secara luas baik hanya mencakup satu segi saja ataupun secara berkaitan (misalnya mendaki gunung untuk melakukan petualangan saja, olahraga saja, atau untuk olahraga, rekreasi dan wisata) yang mengembangkan segi ilmu pengetahuan dan segi petualangan.

Kenapa Mendaki Gunung?

Mendaki gunung seperti kegiatan petualangan lainnya merupakan sebuah aktivitas olahraga berat. Kegiatan itu memerlukan kondisi kebugaran pendaki yang prima. Bedanya dengan olahraga yang lain, mendaki gunung dilakukan di tengah alam terbuka yang liar, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia, apalagi anak kota.

Pendaki yang baik sadar adanya bahaya yang bakal menghadang dalam aktivitasnya yang diistilahkan dengan bahaya obyektif dan bahaya subyektif. Bahaya obyektif adalah bahaya yang datang dari sifat-sifat alam itu sendiri. Misalnya saja gunung memiliki suhu udara yang lebih dingin ditambah angin yang membekukan, adanya hujan tanpa tempat berteduh, kecuraman permukaan yang dapat menyebabkan orang tergelincir sekaligus berisiko jatuhnya batu-batuan, dan malam yang gelap pekat. Sifat bahaya tersebut tidak dapat diubah manusia.

Hanya saja, sering kali pendaki pemula menganggap mendaki gunung sebagai rekreasi biasa. Apalagi untuk gunung gunung populer dan “mudah” didaki, seperti Gede, Pangrango atau Salak. Akibatnya, mereka lalai dengan persiapan fisik maupun perlengkapan pendakian. Tidak jarang di antara tubuh mereka hanya berlapiskan kaus oblong dengan bekal biskuit atau air ala kadarnya.

Meski tidak dapat diubah, sebenarnya pendaki dapat mengurangi dampak negatifnya. Misalnya dengan membawa baju hangat dan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya udara. Membawa tenda untuk melindungi diri dari hujan bila berkemah, membawa lampu senter, dan sebagainya.

Sementara bahaya subyektif datangnya dari diri orang itu sendiri, yaitu seberapa siap dia dapat mendaki gunung. Apakah dia cukup sehat, cukup kuat, pengetahuannya tentang peta kompas memadai (karena tidak ada rambu rambu lalu lintas di gunung), dan sebagainya.

Sebagai gambaran, Badan SAR Nasional mendata bahwa dari bulan Januari 1998 sampai dengan April 2001 tercatat 47 korban pendakian gunung di Indonesia yang terdiri dari 10 orang meninggal, 8 orang hilang, 29 orang selamat, 2 orang luka berat dan 1 orang luka ringan, dari seluruh pendakian yang tercatat (Badan SAR Nasional, 2001).

Data lain, sejak tahun 1969 sampai 2001, gunung Gede dan Pangrango di Jawa Barat telah memakan korban jiwa sebanyak 34 orang. Selanjutnya, dari 4000 orang yang berusaha mendaki puncak Everest sebagai puncak gunung tertinggi di dunia, hanya 400 orang yang berhasil mencapai puncak dan sekitar 100 orang meninggal. Rata rata kecelakaan yang terjadi pada pendakian dibawah 8000 m telah tercatat sebanyak 25% pada setiap periode pendakian.

Kedua bahaya itu dapat jauh dikurangi dengan persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain:

  • Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter (Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut), atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

  • Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

  • Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

  • Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

  • Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

  • Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas universitas.

  • Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.

Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.

Seperti yang dinyatakan dalam data harian Kompas, tercatat dari 50 orang yang pernah tertimpa musibah dalam pendakian gunung Semeru, Jawa Tengah, 24 orang dinyatakan tewas, dua orang hilang, 10 orang luka-luka, dan empat orang selamat.

Banyaknya kecelakaan dan hambatan yang kerap dialami oleh orang yang mendaki gunung, tidak membuat para pendaki berhenti melakukan pendakian. Data terakhir menyatakan bahwa pada bulan Juli 2002 masih dilakukan pendakian oleh sepuluh pendaki gunung asal Bandung menuju gunung Slamet. Pendakian tersebut menyebabkan kesepuluh pendaki gunung tersebut hilang sehingga diperbantukan sebanyak 24 orang anggota Tim SAR Polres Purbalingga dan gabungan pecinta alam dari Purwokerto diterjunkan ke lokasi untuk mencari para pendaki gunung tersebut.

Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking (pemburuan sensasi) tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem (kebanggaan /kepercayaan diri).

Pengalaman pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung.

Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.

::::::

Persiapan Mendaki gunung

Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan ketrampilan.

Kesiapan mental

Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.

Kesiapan fisik

Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan (sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya). Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

Kesiapan administrasi

Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.

Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan

Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC (emergency medical care) praktis.

Perencanan pendakian

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku buku atau artikel artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki.

Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.

Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan :

  1. Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.

  2. Mempelajari medan yang akan ditempuh.

  3. Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.

  4. Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.

  5. Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.

Perlengkapan dasar perjalanan

  1. Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.

  2. Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.

  3. Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.

  4. Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.

  5. Ransel / carrier.

Perlengkapan pembantu

  1. Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.

  2. Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.

  3. Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada].

  4. Jam tangan.

Packing atau menyusun perlengkapan kedalam ransel.

  1. Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.

  2. Masukkan dalam kantong plastik.

  3. Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.

  4. Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.

  5. Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.

  6. Buat Checklist barang barang tersebut.

::::::

Mengenal Jenis Gunung dan Grade Pendakian

Pada garis besar gunung terbagi menjadi 2, yaitu gunung berapi/aktif dan tidak aktif.

Berdasar bentuknya dibagi menjadi:

  1. Gunung berapi perisai (Gunung berapi lava) == seperti perisai

  2. Gunung berapi strato

  3. Gunung berapi maar == Gunung berapi yang meletus sekali dan segala aktivitas vulkanisme terhenti, yang tinggal hanya kawahnya saja.

Macam dan tingkat pendakian gunung macam pendakian, yaitu pendakian gunung bersalju (es) dan gunung batu. Keduanya membutuhkan persiapan dan perlengkapan yang matang.

Menurut Club “Mountaineers”, Seatle Washington, dasar pembagian tingkat pendakian ada dua cara.

Berdasar penggunaan alat teknis yang dipakai ( class)

  • class 1: lintas alam tanpa bantuan tangan

  • class 2: dibutuhkan bantuan tangan

  • class 3: pendakian yang mudah memerlukan kaki dan tangan dalam mendaki, tali mungkin dibutuhkan oleh pemula

  • class 4: pendakian memerlukan tali pengaman

  • class 5: dibutuhkan tali dan pengaman peralatan lain seperti : piton, runner, chocks dll

  • class 6: mendaki dengan tali dengan peralatan bantuan sepenuhnya berpijak diatas paku tebing, memenjat rantai sling atau mengunakan stirupss.

Pendakian claass 4 masuk dalam katagori scrembling (Mendaki dengan cara mempergunakan badan sebagai keseimbangan serta tangan untuk berpegangan dengan medan yang miring sampai 45 derajat) dan class 5 - 6 sudah dapat dikatagorikan sebagai climbing (panjat). Dimana class 5 merupakan free-climbing (Pemanjatan dengan tanpa menggunakan alat tehnis untuk menambah ketinggian, alat hanya sebagai pengaman saja) dan class 6 adalah artificial climbing (Pemanjatan dengan menggunakan alat tehnis sebagai pembantu menambah ketinggian, misalnya dipijak atau disentak dan dipegang).

Apa bila dilakukan di gunung batu / cadas disebut rock climbing dan bila dilakukan di gunung es disebut dengan snow and ice climbing. Ulasan mengenai hal ini dibahas dalam materi tersendiri.

Berdasar lama waktu akibat sukarnya pendakian dalam medan pendakian (grade)

  • grade I, bagian yang sukar dapat ditempuh dalam beberapa jam

  • grade II, bagian yang sukar ditempuh dalam setengah hari

  • grade III, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh

  • grade IV, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh dan memerlukan bantuan lereng-lereng sempit untuk bisa naik

  • grade V, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 1,5-2,5 hari

  • grade VI, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 2 hari atau lebih dan dengan banyak sekali kesulitan.

Berdasarkan tingkat kemanan pemanjat dari kemampuan alat yang digunakan

  • A1: aman sekali, peralatan yang dipasang dan digunakan dapat diandalkan untuk menjaga keselamatan pendaki

  • A2: aman, jikapun terjadi maslah, alat masih dapat diandalkan untuk mencegah akibat yang lebih fatal (misalnya jatuh tidak sampai kedasar)

  • A3: penggunan alat pengaman cukup aman tetapi tidak dapat diandalkan untuk menjaga resiko jatuh, kecuali dengan pemasangan yang sangat teliti dan fall-faktor yang tidak terlalu berbeban tinggi. Bila fall faktor tinggi, maka alat alat akan copot dan pendaki bisa menerima akibat fatal

  • A4: pengaman yang digunakan tidak dapat diharapkan untuk dapat menahan beban jatuh, cenderung hanya sebagai pengaman psykologis untuk menguatkan mental pendaki.

Berdasarkan tingkat kesulitan medan pendakian

Tingkatan pedakian dengan dasar perhitungan ini bisa disebut juga dengan Yossemite Decimal System [YDS]. Pengkatagorian berasal dari USA dan saat ini banyak di gunakan untuk menentukan grade kesulitan panjat tebing. Oleh karena itu YDS dimulai dengan grade 5 dan seterusnya.

Pengkatagorian demikian biasanya digunakan untuk jenis pendakian free-climbing atau free-soloing [Memanjat sendiri tanpa alat bantu dan pengaman apapun, biasanya pada jalur pendek].

Anehnya YDS sendiri menyalahi kaidah matematis penghitungan decimal, dimana misalnya suatu jalur mempunyai ketinggian 5,9 (lima point sembilan) lalu grade selanjutnya menjadi 5.10 (lima point sepuluh). Peng-angka-an ini menjadi “aneh” akibat grade 5.9 lebih rendah dibanding dengan 5.10, padahal dalam matematika sebaliknya. YDS sendiri diawali dengan grade 5.8 atau 5.9, selanjutnya 5.10, 5.11, 5.12, 5.13 dan 5.14. Sampai saat ini tidak ada grade melebihi 5.14.

Perkembangan keanehan peng-angka-an decimal ini menurut beberapa diskusi pegiatan pendakian dan panjat tebing akibat kesalahan memprediksikan kemampuan pendakian pada saat system YDS dipublikasikan. Dimana pada saat itu diperkirakan kemampuan pendakian / panjat hanya sampai grade 5.9. Padahal dalam kemudian berkembangan kemampuan pendakian / pemanjatan yang lebih mutakhir dan luar bisa. Bahkan saking sulitnya menentukan dengan hanya angka angka decimal yang terbatas, seiring dengan banyaknya jalur pendakian/pemanjatan yang dibuat oleh kalangan pemanjat, maka grade decimalpun ditambahkan dibelangkannya dengan alfhabet. Contoh; 5.12a, 5.13 d atau 5.14 c.

Memang sampai saat sekarang barangkali hanya ada beberapa jalur yang dibuat manusia dengan grade 5.14, itupun terbatas pada jalur-jalur pendek. Secara umum grading dengan YDS dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • 5.8: jalur yang ditempuh mudah, grip (pegangan) sangat bisa digunakan oleh bagian tubuh yang ada untuk menambah ketinggian

  • 5.9: jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari

  • 5.10: jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari, hanya saja perlu keseimbangan yang baik

  • 5.11: dapat bertahan pada 2 atau 3 grip dengan satu diantaranya sangat minim dan perlu keseimbangan. Jalur hang hampir bisa dipastikan memiliki grade demikian.

  • 5.12: terdapat 2 dari 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian. Dengan kondisi grip yang kecil di satu bagiannya atau paling tidak sama

  • 5.13: hanya 1 dari diantara 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian, itupun dengan grip yang sangat minim.

  • 5.14 ; “mulus seperti kaca”, tidak mungkin terpikirkan untuk dapat dibuat jalur pendakian/pemanjatan

Makanan (logistik)

Makanan yang dibawa seharusnya dapat memenuhi kebutuhan energi pendaki, selama pendakian seserorang membutuhkan sekitar 5.000 kalori dan 100 gram protein, kalori dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi. Namun ada baiknya hanya memakan nasi satu kali sehari di kala malam (saat berkemah) alasayanya beras realtif berat dan memerluakan waktu yang lama untu memasak serta menghabiskan banyak bahan bakar. Fungsi beras dapat diganti dengan roti, biskuit, coklat, dan hevermit.

Hal yang perlu diperhatikan: hindari mengkonsumsi makanan yang harus dimasak lebih dahulu selama mendaki, karena hal ini hanya akan merepotkan dan menghabiskan waktu perjalanan. Pilihlah makanan praktis seperti coklat, roti, agar-agar, buah-buahan, dapat juga dibuat mixfood yang terdiri atas kacang, coklat, biskuit dan kismis.

Umumnya makanan yang paling praktis dibawa adalah makanan instan yang memiliki kemasan, buanglah kemasan karton sebelum dimasukan dalam ransel dengan demikian berat ransel dapat berkurang dan makanan yang dibawapun tidak banyak memakan tempat didalam ransel.

Peralatan lain

Selain peralatan dan sejumlah perlengkapan, jangan lupa membawa perlengkapan kecil yang terdanag dirasa sepele, namun amat penting. Perlengkapan itu berupa obat-obatan seperti pelester, obat merah, tisu basah dan kering, senter, benang, jarum jahit, jam dan alat tulis. Peralatan itu terkandang dibutuhkan dalam keadaan darurat atau menjaga tubuh tetap bersih.

Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah jangan lupa membawa tas / kantong plastik, tas plastik tersebut dibutuhkan untuk menaruh barang-barang yang kotor dan basah sebelum dicuci dan tas plastik juga berfungsi untuk membawa kembali sampah sampah pendakian, sampah-sampah sisa makanan atau berkemah, janganlah dibuang begitu saja di alam terbuka. Selain mengotori, membuang sampah dapat menyulitkan usaha pencarian dan pertolongan bagi pendaki yang tersesat atau mengalami kecelakaan, kerap kali usaha pencarian orang tersesat terbantu dengan petunjuk dari barang barang yang tercecer.

  • Dicomot dari berbagai sumber

  • Dipersilakan mengutip, mengcopy, maupun memperbanyak tanpa harus mencantumkan sumber

May 18th, 2008 by aban-banggai

suatu saat
nanti naik gunung saja?

Hidup di jaman
sekarang ini memang susah-susah gampang. Teknologi makin memudahkan
orang melakukan banyak hal. Tetapi irama kehidupan jadi tambah cepat.
Ekspektasi jadi naik, orang makin ingin dan makin dituntut untuk
melakukan lebih banyak hal, juga makin ingin mencapai banyak hal.
Makin banyak pilihan, makin besar gap antara pilihan yang satu dengan
pilihan yang lain.

Makin tersedia
pilihan, apakah mau menjadi manusia yang seperti ini atau itu. Apakah
ini dibarengi dengan kesadaran diri, bahwa bagaimanapun manusia itu
terbatas? Apakah ini dibarengi dengan kesadaran untuk meningkatkan
kemampuan? Kalau tidak, jadinya adalah diri sendiri ini berantakan.
Jadwal hidup kacau, nilai-nilai bergeser. Berikutnya akan muncul
domino effect. Kalau diri sendiri kacau, bagaimana dengan organisasi
ataupun komunitas yang kita-kita ini ada di dalamnya? Belum lagi
kalau orang-orang ini adalah pemimpin atau orang yang berpengaruh di
dalamnya.

Kadang semua ini
membingungkan, kalau ingin menghindari secara tegas, bahwa semua ini
menakutkan. Bagaimana tidak, kesimpulan untuk semua ini, adalah makin
sulit mempersiapkan manusia menghadapi kehidupannya. Dulu pendidikan
S1, semestinya mempersiapkan orang untuk masuk ke dunia kerja.
Sekarang, kalangan pendidikan menyatakan, mereka hanya membekali dari
sisi ‘akademis’. Setelah lulus masih dibutuhkan 1-2 tahun untuk siap
menjalankan profesi yang mereka pilih.

Bagaimana nanti?
Jangan-jangan makin bergeser lagi. Mungkin tidak, suatu waktu nanti
akan digeser secara ekstrim? Bayangkan bila pendidikan formal
ternyata tidak berguna lagi. Jadi silakan hadapi hidup kamu dengan
terjun langsung ke dalamnya. Nasib kamu akan ditentukan oleh faktor
keberuntungan saja. Jika kebetulan komunitas kamu mendukung, juga
jika komunitas kamu tepat bagi dirimu, kamu akan jadi manusia yang
utuh. Jika tidak, ya mohon maaf. Jadi silakan mengikuti apa yang
dinamakan seleksi alam. Mengapa tidak? Informasi, pengetahuan bisa
didapatkan di mana saja,  tentunya bagi yang memiliki akses.
Pembentukan sikap, etika, moral sepertinya harus melalui pengalaman,
sentuhan personal, alias sangat sedikit peran pengetahuan di sini.

Suatu waktu
sepertinya ini akan terjadi, semoga saja masih dalam waktu yang
sangat lama. Sepertinya, nanti beberapa bagian dari masyarakat akan
muak, kemudian mereka menyingkir dari peradaban terkini. Ada yang
akan memilih moderat alias tengah-tengah saja, ada juga yang akan
memilih untuk ekstrim, naik gunung.. persis seperti di cerita-cerita
silat saja. Sepertinya menarik juga kehidupan seperti itu. Ada di
jauh entah di mana, masih mengakses informasi-informasi yang
diperlukan, tetapi hidup lebih tenang. Bila memang dibutuhkan,
sesekali ya terpaksalah turun gunung. Tetapi selebihnya, hidup lebih
dekat dengan diri sendiri. Juga tentu dengan orang-orang yang
dikasihi, the inner circle.

Yah, ada sedikit
paradoks di sini, karena kalau mau seperti ini, pastilah pengetahuan,
kemampuan dan pengalaman sudah jauh di atas rata-rata. Persis seperti
pendekar di cerita silat tadi. Kalau sudah naik gunung, sebelumnya
sudah berdarah-darah dulu, sudah menghadapi banyak pahit daripada
manisnya dunia persilatan.

Hehehe… tiba-tiba
sudah mau tutup nh warnetnya…. Waw diluar lagi hujan……

Titik kordinat

May 18th, 2008 by aban-banggai

Tentang
Titik Koordinat

Pernah
dengar “Lokasi gempa berada pada titik 3,52 LS-118,03 BT” Kalo
ya, itulah titik koordinat. Sebuah titik yang menunjukan sesuatu
(orang, pusat gempa, lokasi pesawat jatuh, dll), sebuah lokasi di
lapangan (bumi) dengan di peta. Nah, pendaki gunung (dalam Navigasi
Darat) juga patut mengetahui serta mempelajari guna mengetahui posisi
kita di lapangan, yakni di hutan-gunung. Maka dalam tulisan ini saya
akan sedikit paparkan.

Dalam
menentukan titik atau tempat dipeta, kita dapat melakukan beberapa
cara, diantaranaya:

  1. Dengan
    cara Koordinat Geografi
     

  2. Dengan
    cara Koordinat Peta. Koordinat peta terdapat tiga cara penunjukan,
    yakni: cara koordinat 4 angka, cara koordinat 6 angka, dan cara
    koordinat 8 angka
     

  3. Dengan
    cara karvak
     

  4. Dengan
    cara titik pangkal, dan
     

  5. Dengan
    cara garis pangkal
     

Ups,
lumayan banyak juga caranya. Penunjukan titik atau tempat dipeta yang
kita sering dengar adalah dengan cara koordinat geografi dan peta.
Maka, dalam tulisan ini yang akan saya paparkan hanya dua cara itu.
Lainnya, (mungkin) menyusul. Berikut pemaparannya:

Koordinat
Geografi

Penunjukan
titik atau tempat di peta dengan cara koordinat geeografi diartikan
oleh N.S.Adiyuwono dalam bukunya
Teknik
Membaca Peta dan Kompas

(1995) merupakan suatu sistem untuk menentukan suatu kedudukan atau
titik di permukaan bumi (dalam bidang lengkung). Sistem ini
dinyatakan dalam derajat dengan meridian Greenwich sebagai lintangnya
0
.

Contoh:

Koordinat
A:
Koordinat B:

(maaf,
belum dilengkapi gambar serta penjelasan)

Koordinat
Peta

Sistem
koordinat peta, masih dalam pengertian N.S. Adiyuwono, merupakan
system untuk menentukan kedudukan suatu titik atau tempat pada suatu
peta. Lembar peta dibagi atas garis-garis koordinat yaitu garis
mendatar dan garis tegak (berbentuk kotak-kotak bujur sangkar)

Seperti
yang sudah disinggung diatas. Koordinat peta terdapat tiga cara
penunjukan, yakni: cara koordinat 4 angka, cara koordinat 6 angka,
dan cara koordinat 8 angka.

  1. Cara
    4 angka: digunakan untuk memperlihatkan posisi suatu tempat yang
    cukup lebar, misalkan untuk menunjukan lokasi danau, telaga dsb.
    Jarak kira-kira 1000 meter (sisi bujur sangkar dibagi 1000)
     

  2. Cara
    6 angka: digunakan untuk menunjukan lokasi yang sempit. Semisal,
    loksai kemah, titik pertemuan (check poin) dll. Jarak 100 meter.
    (sisi bujursangkar dibagi 10 bagian)
     

  3. Cara
    8 angka: digunakan untuk menunjukan suatu titik, miasal titik
    triangulasi, lokasi korban (sisi bujur sangkar dibagi 100)
     

Dalam
peta buatan Badan Koordinasi dan pemetaan Nasional (Bakorsurtanal),
pada dasarnya teknik pembacaan titik kordinat geografi dan titik
koordinat peta dijelaskan di peta, yakni dibagian kiri bawah peta.

Daftar
Bacaan:

Adiyuwono,
NS.
Teknik
membaca peta dan kompas
.
1995. Bandung: Angkasa Bandung
Agustin, Hendri.
Panduan
Teknis Pendakian Gunung
.
2006. Yogyakarta: Penerbit Andi

May 18th, 2008 by aban-banggai

Tips
Bila tersesat di hutan

  1. Jangan
    panik!

  2. Hematlah
    tenaga dan jangan lakukan aktifitas berlebihan

  3. Atur
    penggunaan makanan dan minuman sebijak mungkin

  4. Sebelum
    gelap datang siapkan tempat untuk menginap. Bisa di ceruk, di bawah
    tebing kokoh atau diantara pohon yang sama besar

  5. Buatlah
    selalu aktifitas yang menarik perhatian. Seperti, meniup peluit,
    membuat asap, memantulkan sinar matahari dengan cermin atau benda
    berkilat lainnya, membuat kode dengan senter atau lain sebagainya

  6. Jika
    kita memutuskan membuat jalur baru, tinggalkan jejak-jejak

  7. Bekali
    diri anda sebelum melakukan perjalanan dengan ilmu navigasi (darat)
    dan keadaan darurat

  8. Dan…
    hal yang paling penting adalah jangan lupa berdoa…

May 18th, 2008 by aban-banggai

10 Alasan Saya Tidak Merokok.

Banyak
teman-teman saya yang menanyakan mengapa saya tidak merokok sampai
sekarang. Teman- teman saya mengetahui bahwa saya adalah orang yang
suka berpetualang di alam bebas terutama gunung, naaah.. di gunung
itu kan dingin, tentunya kehangatan sebuah rokok merupakan suatu
kenikmatan sendiri bagi para pendaki gunung. Apalagi perusahaan rokok
gencar membangun image dengan menampilkan sosok - sosok petualang dan
penjelajah alam bebas dalam iklan-iklan mereka yang semakin
mengidentikkan bahwa seorang petualang akan lebih pas jika ia
merokok.

Tidak
hanya sampai disitu, teman-teman saya juga melihat pergaulan saya
dari SMA yang ternyata memiliki banyak teman perokok, namun sampai
saat ini saya tidak merokok juga. Kata orang juga saya termasuk salah
satu orang yang tidak melewatka waktu malam begitu saja alias suka
begadang, yang katanya penenang bagi orang yang suka begadang adalah
rokok.

Lalu
kenapa saya tidak merokok ?? Berikut ini adalah 10 alasan yang
membuat saya memutuskan untuk tidak merokok :

  1. Saya
    menyayangi ibu saya, nah ibu saya itu ga suka rokok… jadinya untuk
    membalas kasih ibu yang tak berujung itu, saya memutuskan untuk
    tidak merokok deh.. ceilaaaahhhh….. ;)

  2. Bapak
    saya itu perokok berat, sampai sekarang tuh setiap hari bisa
    menghabiskan 3-4 bungkus rokok Marlboro. Nah, saya sejak kecil
    selalu diam-diam mengingatkan bapak untuk tidak merokok, bahkan
    pernah membuat poster protes bergambar tengkorak bersama rokok lalu
    dengan sembunyi-sembunyi menepelkannya di kaca depan
    mobilnya..he…he… Jadi saya konsekuen untuk tetap menjadi
    pengingatnya dengan tidak merokok.

  3. Alasan
    Kesehatan, dari kecil nenek saya selalu bilang liat tuh kakek kamu
    tiap malam batuk trus ga berhenti2 makanya kamu jangan
    merokok..begitu trus sampai aku bosan dengerinnya..

  4. Gerakan
    Kepanduan, waktu SD sampai SMP mau atau tidak saya harus mengikuti
    program wajib kepanduan (pramuka) dan ternyata saya sangat menikmati
    kegiatan tersebut, termasuk juga ajaran-ajaran Lord Boden Powell
    dalam bukunya tentang Kepanduan. Salah satu halaman dalam buku
    tersebut menggambarkan harus seperti apakah seorang pandu itu, dan
    salah satunya adalah ajakan untuk hidup sehat.

  5. Ajaran
    agama, saya pernah mendapatkan pengajaran dari seorang guru agama SD
    sampai SMP yang selalu mencubit perutku karena selalu bolos
    he..he…bahwa merokok itu sama dengan mencemarkan tubuh kita dan
    menjauhkan dari kesucian badan. Dan kata teman saya juga pernah
    mendapat pelajaran dari biarawan bahwa Tuhan melalui Roh Kudusnya
    bertahta di dalam tubuh kita, oleh karena itu kita tidak boleh
    mencemarinya dengan sesuatu yang merusak tubuh itu sendiri.

  6. Uang,
    hehehe…. membakar rokok sama dengan membakar uang, oleh karena itu
    saya lebih memilih menghabiskan uang jajan untuk berpetualang di
    alam bebas atau memanjakan perut…

  7. Saya
    benci polusi udara, termasuk polusi asap rokok. Sebagai seorang
    penduduk bumi, setidaknya saya punya satu komitmen untuk membuat
    bumi tidak semakin rusak. Hal terkecil yang saya lakukan salah
    satunya adalah tidak merokok.

  8. Image
    dan Nilai Kepribadian, yeah.. saya tahu bahwa point kepribadian saya
    sangat kurang dalam perilaku tampak dan penampilan, orang yang
    merokok memiliki persepsi yang tidak begitu baik sehingga mengurangi
    point kepribadiannya.

  9. Karena
    teman saya banyak perokok jadi kadang Saya melihat teman saya yang
    sedang merokok dari sisi samping kok jelek banget yeah (sori fren
    kali ini aku jujur..), terutama kalo liat gerakan bibirnya yang
    monyong itu. Jadi daripada menambah kejelekan saya, maka saya tidak
    merokok… hahaha…..

  10. Menurut
    Freud orang yang merokok itu adalah orang yang mengalami hambatan
    pada masa oral waktu kecilnya, sehingga untuk memenuhi kepuasan oral
    yang tidak kesampaian pada masa kecil tersebut orang memuaskannya
    dengan merokok…. fiuuh.. beruntunglah saya karena masa oral saya
    terpuaskan dengan baik…. ;)

 

HIPOTERMI

May 18th, 2008 by aban-banggai

Penyakit
Hipotermia


Kawan-kawan,

Dalam
berbagai pendakian gunung yg saya lakukan, baik dlm tim kecil atau
pun pendakian massal sekitar 40 org anak2 manis yg ndak pernah ndaki
gunung, hal2 yg saya amati ketika seseorang terkena hiportemia adalah
:

Gejala
dan Indikasi Penyakit Hipotermia

  1. Hipotermia
    diawali dengan gejala kedinginan spt biasa, dari badan gemetaran
    menahan dingin sampe gigi berkerotakan kerna ndak kuat nahan dingin.

  2. Bila
    tubuh korban basah, maka serangan hiportemia akan semakin cepat dan
    hebat.

  3. Selain
    itu bila angin bertiup kencang, maka pendaki akan cepat sekali
    kehilangan panas tubuhnya ("faktor wind cill" kalo ndak
    salah). Jadi kalo badan basah kuyub kehujanan dan angin bertiup
    kencang, maka potensi hipotermia menjadi "paradoxical feeling
    of warmt" akan semakin cepat terjadi.

  4. Puncak
    dari gejala hipotermia adalah korban tidak lagi merasa kedinginan,
    tapi dia malah merasa kepanasan (dlm bukunya Norman Edwin disebut
    "paradoxical feeling of warmt" kalo ndak salah). Oleh
    karena itu si korban akan melepas bajunya satu per satu sampe bugil
    dan tetap masih merasa kepanasan.

  5. Hipotermia
    menyerang saraf dan bergerak dengan pelan, oleh karena itu sang
    korban tidak merasa kalo dia menjadi korban hipotermia. Dari sejak
    korban tidak bisa nahan kedinginan sampe malah merasa kepanasan di
    tengah udara yg terasa membekukan, korban biasanya tidak sadar kalo
    dia telah terserang hipotermia. Dalam hal ini kawan seperjalanan
    (terutama team leader atau kawan pendaki yg lebih pengalaman) sangat
    penting artinya utk mengawasi apakah kawan2 kita ada yg sakit
    (hipotermia, frostbite, mountain sickness, stress, dll). Jadi kalo
    ada kawan2 seperjalanan kita mulai bertingkah aneh2 yg di luar
    kebiasaannya, maka kita patut curiga dan waspada ada apa dgn dia dan
    tentu saja perlu segera memeriksa atau menanyai apakah dia masih
    "sadar" atau tidak.

  6. Dalam
    salah satu kasus yang pernah saya dengar, seorang pendaki cewek
    dengan "anggunnya" berganti pakaian yg basah dengan
    pakaian kering di hadapan kawan2nya. Tentunya cewek itu kalo dia
    sadar pasti tdk akan berani melakukan hal spt itu; tapi saat itu dia
    telah terkena hipotermia dan tdk sadar akan dirinya. Cewek itu
    kembali kesadarannya setelah sampe di bawah (istirahat dan makan).
    Waktu ditanyain ttg "kelakuannya" itu, dia malah tdk
    merasa melakukan sesuatu yg ganjil. Jadilah selama perjalanan pulang
    dan di sekretariat dia menjadi bulan2an olokan.

  7. Dalam
    kasus penderita hipotermia yg sampe pada taraf "paradoxical
    feeling of warmt" selain merasa kepanasan dia juga terkena
    halusinasi. Akan tetapi, dlm banyak hal lainnya, halusinasi juga
    telah terjadi walau si korban tdk sampe mengalami "paradoxical
    feeling of warmt". Yang jelas, ketika si korban hipotermia
    sudah kehilangan "kesadaran", maka dia akan mudah terkena
    halusinasi. Dan faktor halusinasi ini yg sangat berbahaya karena
    korban akan "melihat bermacam2 hal" dan dia akan mengejar
    apa yg dilihatnya itu tanpa menghiraukan apa2 yg ada di hadapannya.
    Jadi tidaklah mengherankan kalo banyak korban hipotermia ditemukan
    jatuh ke jurang dlm kondisi telanjang bulat dan telah meninggal
    dunia.

  8. Lalu
    bagaimana cara mengatasi kalo ada kawan kita yg terkena hipotermia?
    Kalo taraf hipotermianya ringan masih mudah ditangani, tapi kalo
    sudah mulai bertelanjang dan berlari2 atau berteriak2 mengejar
    halusinasinya akan susah sekali penangannya. Yang mudah dan praktis
    adalah melakukan tindakan pencegahan thd penyakit hipotermia.

Tindakan2
Pencegahan Penyakit Hipotermia

  1. Bila
    kita melakukan kegiatan luar ruangan (pendakian gunung khususnya)
    pada musim hujan atau di daerah dengan curah hujan tinggi, maka
    membawa ponco/raincoat adalah suatu keharusan. Selain membawa jas
    hujan, pakaian hangat (jaket tahan air dan tahan angin, kalo perlu)
    dan pakaian ganti yang berlebih dua tiga stel, serta kaus tangan dan
    kerpus/balaclava/topi ninja juga sangat penting. Perlengkapan yg
    tidak kalah pentingnya adalah sepatu pendakian yg baik dan dpt
    menutupi sampe mata kaki, jangan pake sendal gunung atau bahkan
    jangan pake sendal jepit. Naik gunung pada musim hujan bukan utk
    gagah2an aja.

  2. Bawa
    makanan yg cepat dibakar menjadi kalori, seperti gula jawa, enting2
    kacang, coklat dll. Dalam perjalanan banyak "ngemil" untuk
    mengganti energi yang hilang.

  3. Bila
    angin bertiup kencang, maka segeralah memakai perlengkapan pakaian
    hangat, spt jaket, kerpus/balaclava dan kaus tangan. Kehilangan
    panas tubuh akibat faktor "wind cill" tidak terasa oleh
    kita, dan tahu2 aja kita jatuh sakit.

  4. Bila
    hujan mulai turun bersegeralah memakai jas hujan, jangan menunggu
    hujan menjadi deras. Cuaca di gunung tidak dapat diduga. Hindari
    pakaian basah kena hujan.

  5. Bila
    merasa dirinya lemah atau kurang kuat dalam tim, sebaiknya terus
    terang pada team leader atau anggota seperjalanan yang lebih
    pengalaman untuk mengawasi dan membantu bila dirasa perlu.

  6. Dont
    worry, be happy selalu dalam perjalanan. Semangat dan jangan gampang
    menyerah bila kondisi mulai memburuk.

Udah
ini aja dulu. Capek ngetiknya. Sebenarnya masih banyak cerita dari
pengalaman kawan-kawan saya yang sempat menangani korban hipotermia,
baik hipotermi yang ringan maupun hipotermi berat; tapi ntar
disambung lain kali aja yah.

Semoga
berguna.

salam,
Friendship and Brotherhood

Aban_Raha
( Mc 04 275 NL)

DIALOG DENGAN DIRI SENDIRI

May 18th, 2008 by aban-banggai

DIALOG
DENGAN DIRI SENDIRI

 

Mendaki
gunung adalah berdialog dengan diri sendiri dan sebagai medianya
adalah alam sekitar
(gunung, hutan, cuaca dll).

Kita
hidup dalam budaya modern, yang berkiblat pada budaya Barat.
Akibatnya adalah kita kehilangan identitas diri, asing dengan diri
sendiri. Kita jadi terbiasa menekan emosi, suara hati dan bahkan
mimpi-mimpi. Gunung dari sejak ratusan tahun yang lalu sudah ada di
sini dan ratusan tahun yang akan datang akan tetap ada di sini.
Sedangkan manusia datang dan pergi; lahir - bayi - remaja - dewasa -
tua - mati. Generasi demi generasi manusia timbul dan tenggelam di
muka bumi.

Gunung
dari dulu begitu dan tidak berubah. Dengan mendaki gunung kita
mencoba berdialog dengan diri sendiri, untuk jujur mengakui kelebihan
dan kekurangan diri kita sendiri. Gunung tidak berubah, tapi
tanggapan kita yang terus berubah dari saat ke saat. Susah senang,
sedih gembira, takut, marah dll. Yang menjadi pertanyaan adalah:
"Apakah kita menyadari dengan betul-betul adanya emosi-emosi
tersebut yang silih berganti berubah? Kalau kita merasa puas diri dan
berkuasa, maka kita akan bilang bahwa kita telah mengalahkan gunung
(alam). Kita menaklukkan gunung setelah kita menginjakkan kaki di
puncaknya.

Kalau
kita merasa lemah dan kecil, maka kita akan merasa rendah diri,
inferior di hadapan gunung (alam). Kita dikalahkan oleh gunung. Bila
kita merasa damai dengan diri kita sendiri, maka kita akan menjadi
bagian dari gunung (alam). Kita "menyatu" dengan alam.

Banyak
sekali emosi dan perasaan kita pada saat melakukan pendakian gunung
"membanjir" keluar dengan derasnya. Tidak ada yang baik
atau buruk dan benar atau salah dengan segala emosi dan perasaan kita
di atas. Perasaan dan emosi kita itu akan silih berganti sesuai
dengan respon kita terhadap rangsang dari luar dan kondisi batin kita
sendiri.

Yang
perlu kita lakukan adalah mencermati dan mengamati semua respon kita
terhadap rangsangan dari luar dan kondisi batin yang ada di dalam
diri kita. Dan proses pengamatan ini berlangsung terus menerus, dari
saat ke saat pada waktu kini (present time).

Dengan
melakukan hal ini, maka kita akan menjadi peka. Peka terhadap diri
sendiri yang ada di dalam maupun peka terhadap semua fenomena luar.
Suatu saat kita akan dapat berbicara dengan "raksasa yang ada di
dalam diri", suatu sumber daya melimpah yang sebelumnya tidak
pernah kita sadari itu ada. "Raksasa yang ada di dalam diri"
itulah yang akan menjadi "kompas" sejati dalam hidup kita.

Friendship
and brotherhood…….

Aban
raha

NAEK LAGI….

May 18th, 2008 by aban-banggai

hayati
perjalanan anda…

 

Kita
biasanya dalam mendaki gunung sibuk berceloteh, ngobrol dengan kawan
sesama pendaki atau pun tidak henti-hentinya membuat
keramaian/keributan. Selama dalam perjalanan kita tidak bisa diam dan
hening, tapi malah sibuk dengan segala celoteh remeh temeh.

Bila
suatu ketika kita mendaki gunung lagi, cobalah eksperimen berikut:
mendaki gunung dalam hening.

Selama
sekitar 30 menit dalam pendakian gunung kita diam total, tidak bicara
atau ngobrol dengan kawan seperjalanan. Akan lebih bagus kalau kita
dapat berjalan sendirian atau mendaki gunung sendirian, sehingga kita
tidak tergoda untuk ngobrol atau bersenda gurau. Selama sekitar 30
menit itu kita diam, hening, dan memperhatikan. Kita memperhatikan
alam sekitar kita. Kita mendengarkan suara-suara di sekitar, spt:
kicau burung, pekikan elang, jeritan monyet, desau angin, gemericik
air mengalir, dll. Kita mendengarkan suara-suara di sekitar, walau
kita tdk dpt mengidentifikasikannya; dan kita tdk perlu bersusah
payah utk mengidentifikasikannya. Kita mengamati pikiran-pikiran yg
muncul di benak dan di hati. Kita juga mengamati reaksi-reaksi batin
kita atas munculnya pikiran-pikiran tersebut, apakah muncul rasa
takut, rasa senang, rasa marah, rasa benci, rasa cemburu dll.

Kita
bersikap hening dan waspada.

Kalau
kita merasa takut dengan keheningan dan kesendirian ini, kita akui
saja dengan jujur bahwa kita merasa takut. Kalau kita merasa
kesepian, ya kita akui bahwa kita kesepian. Kalau kita merasa berdosa
telah melakukan sesuatu hal yang salah, ya kita akui bahwa kita telah
bersalah. Kalau kita merasa merasa kuat dan berkuasa, ya kita akui
saja ttg perasaan kuat dan berkuasa ini. Yang penting adalah kita
terus mendengarkan dan mengamati segala hal, baik yang ada di dalam
diri kita maupun yang datang dari alam sekitar kita.

Bila
kita terus bersikap hening dan waspada, maka suatu saat kita akan
mendengar/merasa suara-suara jernih yang datang dari kedalaman diri
kita yang paling dalam.
Walau tdk ada yg memberitahu kepada kita,
kita akan langsung tahu dan paham bahwa suara-suara jernih tersebut
memberi petunjuk yang sebenarnya kepada kita. Tidak usah dikatakan
lagi, kita akan merasa damai dan enjoy dengan diri kita
sendiri. Kita akan merasa bahagia, utuh penuh. Kita berada di jalur
yang benar dengan tujuan yang benar pula. Semua terasa klop
(pas) di tempatnya masing-masing. Dan kita merupakan bagian dari
sesuatu yg terasa klop (pas) tersebut.

Salam
lestari,..

Mc
04 275 NL

Mendaki gunung itu nikmat

May 18th, 2008 by aban-banggai

Mendaki
Gunung Itu Nikmat

 

Banyak
orang masih bertanya-tanya sampai sekarang,” Apa sih enaknya naik
gunung?” Badan capai, dingin, lapar, dan bisa mati juga. Seperti
orang kurang kerjaan saja. Tapi, sebenarnya kalau kita tahu trik-trik
dalam pendakian gunung. Kegiatan ini ternyata bisa juga dinikmati dan
aman-aman saja selama kita tahu batas kemampuan diri sendiri.

Pertama
kali yang harus di ketahui dalam perjalanan pendakian gunung adalah
bagaimana teknik berjalan. Tentu agak aneh juga kedengarannya. Setiap
orang yang punya kaki dan tidak lumpuh pasti bisa berjalan, terus
apalagi yang harus dipelajari?

Keseimbangan.

Inilah
jawaban mengapa kita wajib belajar lagi tentang teknik berjalan di
gunung. Di sana, cara berjalan kita tak sama seperti saat kita
berjalan di jalan-jalan perkotaan. Di gunung kita harus membawa
banyak beban di punggung kita. Kemudian ditambah faktor medan
perjalanan yang kadang harus mendaki punggungan-punggungan gunung
yang curam, atau melintasi lembah panjang tak bertepi, bahkan
kadang-kadang menuruni ceruk-ceruk dalam yang teramat kelam pada
akhirnya. Dengan situasi medan seperti itu ditambah dengan beban
berat di punggung, maka faktor keseimbangan tubuh adalah mutlak untuk
dipelajari.

Maka
itu diperlukan harmoni untuk mencapainya. Aturan napas dan gerak
langkah haruslah seirama satu sama lainnya. Seperti juga dalam sebuah
orkes simfoni, keterpaduan antara pengaturan permainan napas yang
disingkronkan dengan gerak langkah yang tidak kaku menjadi sebuah
harmonisasi nada tersendiri. Dan jadikan gerak melangkah dalam
perjalanan itu sebuah seni tersendiri. Memang benar ada beberapa
prinsip dalam berjalan yang harus dituruti. Seperti melangkahlah
dengan langkah-langkah kecil saja. Sebab langkah yang terlalu lebar
membuat beban yang dibawa menjadi hanya bertumpu pada satu kaki saja,
sehingga membuat keseimbangan kaki menjadi gampang goyah.

Selain
itu keuntungan lain yang didapat dengan melangkah kecil-kecil adalah
membuat napas lebih mudah diatur. Hal ini berdampak langsung pada
sistem penghematan tenaga yang terbuang.
Memang efek samping yang
paling kentara dari berjalan dengan langkah kecil ini adalah
melambatnya irama jalan. Tapi itu lebih baik adanya daripada berjalan
cepat-cepat tapi banyak istirahat yang dibutuhkan. Sedangkan
parameter yang dapat dijadikan pegangan untuk mengetahui sampai batas
seberapa kita melebihi irama jalan adalah saat kita mulai merasa
sulit berbicara dengan rekan seperjalanan. Ini biasanya disebabkan
karena irama napas yang mulai tidak teratur dan hal tersebut menjadi
tanda bahwa berarti kita berjalan terlalu cepat.

Teknik
Istirahat

Buat
seorang pehobi mendaki gunung berpengalaman, berjalan terus-menerus
selama dua sampai tiga jam tanpa istirahat bukanlah berat. Tingginya
jam jalan dan latihan yang terus-menerus membuat stamina dan kekuatan
seperti itu bisa diperoleh. Buat ukuran kita, para awam dapat
berjalan satu jam terus-menerus dengan diselingi istirahat selama
sepuluh menit adalah wajar.
Saat istirahat juga banyak faktor yang
harus diperhatikan. Seperti, duduklah dengan kaki menyelonjor lurus
ke depan. Karena hal ini dapat melancarkan kembali aliran darah yang
sebelumnya hanya terpusat ke kaki. Usahakan cari tempat yang tidak
terlalu berangin, karena angin dapat mengerutkan otot yang sedang
beristirahat tersebut. Minum air yang berenergi dan bukalah sedikit
makanan ringan yang kita bawa, untuk mempercepat proses recovery pada
tubuh.

Pendapat
yang mengira bahwa meneguk minuman keras di gunung itu baik adalah
salah adanya. Memang kehangatan bisa kita dapat dari minuman tersebut
tapi pembuluh darah dalam kulit menjadi mengembang dan memberi
kesempatan udara dingin masuk ke dalam tubuh. Kehangatan sesaat yang
kita terima tidak seimbang dengan akibat setelahnya, yaitu kedinginan
dalam jangka waktu lama. Lagipula tak baik bila meminum minuman keras
bila sedang dalam berjalan di gunung, selain bisa mengakibatkan mabuk
yang bisa berdampak bahaya untuk si pendaki sendiri. Atur waktu
istirahat, jangan terlalu lama juga. Selain sayang pada otot-otot
kaki yang sudah memanas dan kencang menjadi mengendur karena kelamaan
istirahat. Tapi, bila dirasakan Anda memerlukan istirahat lebih lama
dari biasanya itu pertanda Anda berjalan terlalu cepat. Dan bila
tiba-tiba tiap setengah jam atau kurang Anda merasa membutuhkan
istirahat itu berarti pertanda tubuh kita sudah terlalu lemah dan
lelah. Masalah kelelahan ini haruslah dipertimbangkan masak-masak.
Bila hal ini terjadi tak jauh dari puncak tempat tujuan mungkin kita
bisa memaksakan untuk mencapainya. Tapi, bila terjadi di tengah
perjalanan dan puncak tempat tujuan kita masih terasa jauh dari depan
mata lebih disarankan mengambil istirahat panjang, kalau perlu
dirikan tenda untuk beristirahat.

Memilih
lokasi istirahat juga harus memperhatikan banyak hal. Pilihlah lokasi
istirahat yang memiliki pemandangan indah, karena paling tidak secara
psikologis menikmati pemandangan dapat mengurangi perasaan lelah yang
timbul selama dalam perjalanan. Makan dan minum secukupnya, kalau
perlu dimasak dahulu agar hangat dan segar. Baik juga kalau kita
memakan sedikit garam untuk menghindari keram.

Medan

Selanjutnya
yang perlu diperhatikan saat berjalan di gunung adalah memperhatikan
betul medan yang akan kita tempuh. Medan yang berumput dan terjal
kadang membahayakan, apalagi saat basah karena hujan atau embun pada
pagi hari. Bila kita tak berhati-hati melewatinya, tergelincirlah
akibatnya. Apalagi bila kita memakai sepatu yang tidak mempunyai sol
ber-‘kembang’ yang layak. Sama juga seperti pada medan yang
berlumpur dan becek, cenderung licin dan berbahaya. Di daerah yang
penuh kerikil dan batu-batu tajam disarankan berhati-hati dan tidak
bertindak ceroboh. Tidak berbeda juga di saat kita menemui daerah
dengan batu-batu besar seperti saat di sungai. Kalau bisa melompat
dari satu batu ke batu lainnya lebih disarankan. Tapi ini memerlukan
kecepatan gerak dan ketepatan dalam melangkah, karena kadang batu
tempat kita berpijak sudah bergulir saat kita akan pindah ke batu
yang lain. Faktor kelelahan dan pengalaman juga bisa menjadi acuan
bila ingin meloncat-loncat seperti ini. Bila kita sudah terlalu lelah
cara yang paling aman adalah dengan menaiki satu per satu batu-batu
tersebut dan memeriksa dahulu batu-batu yang akan dipijak agar tidak
bergulir nantinya. Lain lagi bila menemui daerah dengan karakter
berpasir. Berjalan mendaki di daerah seperti ini lebih sukar daripada
berjalan di atas tanah keras. Setiap kali dua kali melangkah ke atas
tanah akan melorot ke bawah sebanyak satu langkah. Kadang-kadang
perlulah menyepakkan kaki agar tanah memadat dan tidak melorot lagi.
Bila kita menjadi orang kedua kita bisa mempergunakan jalur yang
pernah dilalui orang pertama, hal ini bisa menghemat tenaga karena
tanah berpasir bekas jejak menjadi lebih padat dan keras. Juga jangan
cepat percaya pada pepohonan kecil-kecil yang berada di
pinggir-pinggir tebing. Seringkali pohon tersebut tak cukup kuat
untuk menahan tubuh kita, sehingga gampang tercabut saat kita
memakainya untuk menahan bobot badan. Pakailah pohon-pohon tersebut
hanya sebagai keseimbangan saja. Jangan terburu-buru mengambil
keputusan memotong lintasan yang sudah ada. Memang kadang lintasan
tersebut terasa jauh bila kita melewatinya. Tapi percayalah, hal
tersebut biasanya dikarenakan faktor mengikuti bentukan alam yang ada
di daerah tersebut. Memang itu adanya jalur yang terbaik. Juga
biasanya jalur-jalur memotong itu lebih sulit adanya, lebih baik
jalan sedikit melingkar tapi dapat menghemat tenaga daripada
mengikuti lintasan memotong tapi terkuras tenaga.

Jadi,
patut diulang lagi. Ucapan-ucapan yang mengatakan bahwa naik gunung
itu susah adalah bohong belaka. Ternyata kita bisa menikmatinya, dan
bahaya-bahaya yang timbul di sana sebenarnya bisa diminimalkan dengan
cara meningkatkan pengetahuan tentang kegiatan tersebut. Dan dengan
menjadikan sebuah perjalanan menjadi sebuah seni adalah cara
tersendiri dalam menikmati ciptaan-Nya.

ABAN RAHA

Mc
04 275 NL